Malam Minggu  

Posted by doedoedoe in , ,


Apa sih spesialnya malem minggu? Bagi gw itu hanya salah satu malem di antara tujuh malem lainnya. Kenapa orang-orang banyak yang men-spesial-kan malem yang satu ini. Kalo cuma urusan besoknya libur, terus apa bedanya sama malem sabtu? Toh hari sabtu libur juga kan? Malem minggu hanya sebuah malam dimana jalanan Jakarta macetnya bukan main, apalagi daerah pusat kota. Seperti sekarang, gue duduk bosen di depan kemudi mobil gue. Jalanan Jakarta stuck.
Kalau gak kepaksa banget, gue gak bakalan deh keluar malem minggu ini. Tapi malem ini gue harus jemput Pakde dan Bude gue di Gambir. Jam di mobil gue nunjukin angka 18.21, jam yang pas banget buat kalian yang mau nikmatin kemacetan di kota Jakarta tercinta. Gue kadang bingung, ini orang-orang mau pada kemana ya?
Akhirnya sampai juga gue di Gambir. Haus, harus cari minum. Kasian kerongkongan gue udah kering daritadi.
"Mas, Pakde sama Bude masih di kereta. Ada perbaikan jalan keretanya tadi, makanya ini agak telat. Tunggu sebentar ya."
Begitulah SMS Pakde gue pas tadi lagi beli minum. Harus nunggu deh kalau gitu. Akhirnya gue mutusin buat duduk di samping mobil gue.
"Om, beli dong. Satu aja." Suara anak kecil ngagetin gue.
"Kamu jual apa?" Gue iseng nanya.
"Jual poster Om. Ada macem-macem nih. Kali-kalian, tambah-tambahan."
"Lah, buat apa saya beli kaya gitu? Saya udah apal."
"Buat anaknya Om. Biar pinter."
"Belum punya anak." Gue jawab simpel.
"Masa sih Om? Gak keliatan belum punya anak."
Eh, ini anak kurang ajar banget. Apa muka gue keliatan setua itu ya?
"Anak kecil kok masih keliaran jam segini. Gak dicariin?" Akhirnya gue coba ngalihin topik dari masalah umur.
"Gak ada yang nayriin kok Om. Udah pada tau juga kalau saya jualan disini."
"Kamu jualan buat nyari biaya sekolah?"
"Gak, buat makan. Gak perlu lah sekolah Om, dari jualan kaya gini aja saya udah pinter. Saya udah bisa kali-kalian. Belajar dari poster jualan." Senyumnya mengembang.
"Yakin? Sini, saya tes."
"Eits, tunggu dulu Om. Kalau mau ngetes saya, Om beli dulu nih. Goceng doang." Anak itu menyodorkan sebuah poster perkalian.
Gue tertawa sambil menyerahkan selembar uang pecahan lima ribu. Gue suka anak ini, dia pintar.
Gue mulai memberi soal perkalian sederhana pada anak itu. Dari semua pertanyaan yang gue kasih, anak itu lancar banget jawabnya. Gue makin salut, dia tidak sekolah tapi dia hapal perkalian.
"Udah deh Om, saya mau jalan lagi. Jualan saya masih banyak nih. Makasih ya Om." Anak tadi bersiap pergi.
"Sini, saya beli sepuluh biji lagi posternya." Gue ngeluarin uang pecahan lima puluh ribu rupiah.
"Buset, buat apa beli banyak-banyak Om? Si Om kasian sama saya ya?"
Sial ini bocah. Gue mau bantuin malah nanya kaya gitu.
"Gak usah deh Om. Saya uda seneng banget kok Om mau beli satu poster saya. Apalagi tadi OM uda bantuin saya ngapalin kali-kalian." Anak itu tersenyum, "Saya duluan Om." Dan dia ngeloyor pergi ninggalin gue.
Gue cuma bengong, anak ini terlalu pinter buat cuma jualan di statsiun kaya gini. Sayang sekali dia gak punya kesempetan buat sekolah. Gue yakin dia bisa jauh lebih pinter dari ini.
Gue yang gak suka sama malem minggu, justru nemuin hal yang luar biasa di malem minggu ini. Senyum lebar pun ngembang di muka gue.

Pertemuan  

Posted by doedoedoe in , ,


"Silahkan Bos, ini foto-fotonya. Malem ini mau dipijet sama siapa?" Seorang wanita menyodorkan sebuah album foto dengan genitnya kepada seorang pria tengah baya berkumis tebal.
"Saya mau sama si Dona ini." Seru pria tadi setelah membuka-buka album foto tersebut.
"Boleh aja Bos, mau ambil paket apa? Pijet aja? Atau pake lulur juga?" Tanya wanita genit tadi lagi.
"Paket apa aja, bebas yang penting sama si Dona." Suara tawa menggelegar mengikuti kata-kata pria tadi.
"Ah, si Bos bisa aja. Yuk, Bos aku anter ke room nya. Nanti biar Dona nyusul ke dalem."
Setelah sampai kamar yang ditunjukan dan ditinggalkan oleh wanita genit tadi, pria yang dipanggil Bos itu langsung melucuti pakaiannya hingga hanya menyisakan celana dalamnya. Dia berbaring di atas kasur tipis yang tersedia di tengah ruangan.
***
Aku masuk ke dalam sebuah ruangan bercahaya remang-remang. Di dalam terlihat seorang pria gendut berkumis tebal yang hanya mengenakan celana dalam putih berbaring mengobral perutnya yang menyerupai gentong. Wajahnya melukiskan nafsu birahi yang bergejolak saat melihatku masuk. Aku menutup dan mengunci pintu.
"Malem Om." Sapaku dengan senyum manis dan akting genit yang sengaja berlebihan.
***
Hari ini tempatku bekerja sedang sepi pelanggan, maklum tanggal tua. Sudah dua hari ini aku tidak dapat tamu. Aku sih senang saja, santai, tidak cape. Hari-hari seperti ini aku nikmati dengan bercengkrama dengan rekanku yang lain.
"Don, nanti malem anterin aku ke pasar yuk. Lipstik aku abis, sama sekalian mau beli maenan buat Fajar. Besok dia ulang taun yang ke-6." Mbak Dara mengajakku sambil menghembuskan asap rokok dari bibir merahnya.
"Ayo aja Mbak. Ya ampun, gak kerasa ya Mbak. Uda 6 taun aja dia. Pasti cakep banget deh sekarang." Aku menimpali dengan semangat.
"Iya, minggu kemaren aku dapet foto Fajar pake seragam SD dari pembantunya. Cakep banget Don, matanya makin mirip aku. Nih yah aku liatin."
Mbak Dara sibuk memngotak atik HP-nya dan segera menunjukan padaku foto anaknya yang dia ceritakan tadi. Tampan sekali anak Mbak Dara ini. Sayang sekali Mbak Dara tidak dapat menemui anaknya, sudah hampir 3 tahun ini dia dilarang bertemu anaknya oleh mantan suami dan keluarganya.
"Terus, cara ngasihin maenannya nanti gimana Mbak?" Aku bertanya hati-hati.
"Ya seperti biasa lah Don. Aku bakalan dateng ke rumahnya. Mau aku kasih sendiri ke Fajar." Jawab Mbak Dara santai.
"Terus diusir lagi? Tahun lalu aja Mbak hampir berurusan sama polisi. Kalau memang mau, mending dipaket aja Mbak." Saranku.
"Walaupun diusir atau harus sampe berurusan sama polisi, yang penting aku bisa liat Fajar langsung Don. Walaupun cuma sebentar, yang penting liat dia langsung." Suara Mbak Dara mulai bergetar.
Aku hanya bisa memegang tangan Mbak Dara dan tersenyum, di hadapanku kini ada seorang ibu yang berjuang demi bertemu anaknya. Aku kagum akan semangatnya.
"Sudahlah, kok malah sedih-sedihan. Sekarang kamu dong yang cerita, apa kek. Bosen nih bengong gini seharian gak ada tamu." Mbak Dara mengalihkan topik pembicaraan.
"Cerita apa? Aku gak ada cerita Mbak." Jawabku agak malas.
"Cerita apa aja gitu. Cerita pacar pertama kamu deh."
"Pacar pertama aku? Waduh, udah lama banget itu Mbak." Aku tertawa.
"Udah lama tapi bukan berarti udah lupa kan? Katanya yang namanya pacar pertama itu gak akan pernah bisa dilupain. Apalagi kalau pacar pertama itu orang yang ngasih ciuman pertama buat kita." Mbak Dara tertawa melengking khas.
"Apa sih Mbak?" Aku mendorong sedikit tubuhnya, mukaku panas, malu.
"Ayo dong, ceritain. Siapa laki-laki beruntung itu?" Mbak Dara gencar memaksaku.
Paksaan demi paksaan dihembuskan Mbak Dara. Sedikit demi sedikit aku kembali ke waktu itu. Saat aku masih mengenakan rok biru tua setiap pergi ke sekolah. Saat aku benci setiap bertemu matematika. Saat aku senang setiap kali bertemu dia.
Dia yang entah bagaimana dan mengapa selalu menjadi teman sekelasku saat formasi kelas selalu berubah setiap tahunnya. Dia yang selalu mencuri perhatianku sejak pertama kali aku melihatnya. Dia yang selalu baik kepadaku. Dia yang menjadi pacar pertamaku saat kami duduk di kelas 3. Dan dia yang memberikan padaku ciuman pertamaku.
Benar seperti apa yang dikatakan oleh Mbak Dara. Pacar pertama dan sekaligus orang yang memberikan ciuman pertama tidak akan pernah bisa kita lupakan. Ingatan akan dirinya pasti akan aman tersimpan di salah satu ruang memori kita. Dimana dia berada sekarang ya?
Tiba-tiba sebuah keributan terjadi di ruangan depan tempatku bekerja. Terdengar teriakan Tante Agnes si pemilik usaha. Segerombolan pria berseragam masuk ke ruang tempat aku sedang mengobrol dengan Mbak Dara. Instingku memerintahkan untuk lekas lari, tapi terlambat. Aku dan Mbak Dara tertangkap, kami berontak tapi percuma. Tenaga kami bukan apa-apa dibanding tenaga pria berserangam itu.
Di sinilah aku, duduk berjajar dengan wanita-wanita lain di sebuah lorong kantor polisi. Ini kali keduanya aku duduk di tempat ini. Kapok? Tentu saja, dari saat pertama pun aku kapok. Tapi bagaimana lagi, aku butuh uang, aku tidak punya keahlian apapun selain apa yang kukerjakan saat ini.
***
"Kamu bertiga ayo masuk." Seorang polisi memerintahkan aku, Mbak Dara dan Santi untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Aku duduk di bangku sebelah kiri. Sebuah mesin tik duduk kaku di meja di hadapanku. Polisi yang akan mendata berdiri mebelakangiku menghadap jajaran lemari file. Dia berbalik dan terasa sebuah pisau ilusi menusuk jantungku. Berhenti sesaat, lalu berdetak sangat kencang.
Pandangan mata kami bertemu. Lama. Mata itu, masih sama. Ada kelembutan yang masih sangat aku ingat baik .Kelembutan yang aku lihat saat dia akan menciumku untuk pertama kalinya. Walaupun kini tertutup oleh keterkejutan dan kekecewaan yang sangat jelas.
Mata kami masih beradu, tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut kami. Dia duduk di hadapanku. Matanya masih tetap memandangku, dalam, kecewa, sedih.
"Nama?" Suaranya bergetar.
"Do-na." Dan air mataku pun mengalir.

The Golden Boy  

Posted by doedoedoe in

Aku berlari sekuat tenaga menuruni bukit kecil itu tanpa menoleh ke belakang. Sebentar lagi langkah kaki ku akan tiba di kota. Tempat yang ramai, hanya itu yang aku dapat pikirkan sekarang. Mungkin di tempat ramai, mereka tidak akan terlalu berani menyerang. Sebuah cahaya berwarna biru muda melesat di sebelah kiriku dan menghantam tanah kosong di depannya, seketika itu ledakan terjadi, menghamburkan tanah keras ke segala arah. Aku melndungi mukaku dari serpihan tanah tanpa memperlambat gerakan kakiku.

Sial, ternyata mereka yang mengejarku semakin dekat. Derap langkah mereka semakin terdengar jelas. Jalan setapak di depanku sudah semakin terang, di balik bukit kecil inilah kota yang aku tuju menanti. Terang. Aku tiba di ujung bukit kecil ini, berupa turunan terjal yang berakhir pada sebuah jalanan kecil di bawahnya. Tanpa sedikitpun memperlambat langkahku aku terus berlari dan sampai di tepi terjal bukit itu. Dan dengan tolakan yang mantap, aku lompat membawa tubuhku melawan gravitasi sejenak, dan terjun bebas menuju aspal keras yang menantiku di bawah.

Saat tubuhku melayang, aku merasakannya. Aku merasakan sensasi itu dalam tubuhku. Sensasi yang baru aku kenal tidak lebih dari dua minggu lalu. Sensasi yang sangat menyenangkan dan memacu adrenalinku sampai batas level yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Sensasi yang aku rasakan itu perlahan menyeruak ke setiap pori pada tubuhku. Rasanya seperti ada cairan pekat yang keluar dari seluruh pori dan menyelimuti tubuhku. Rasanya luar biasa.

Perlahan setiap mili tubuhku terbungkus oleh membran yang memadat. Kini semua tertutup sempurna, tubuh baruku, tubuh emasku. Kakiku yang kini terbungkus lapisan emas solid mendarat mantap di atas jalan beraspal keras, meninggalkan jejak kakiku sedalam 2 cm. Aku menoleh ke belakang, terhilat beberapa orang berhenti di ujung bukit tersembunyi di balik bayangan gelap.

Sesaat setelah tubuhku kembali normal, aku melanjutkan lariku menuju tempat yang jauh lebih ramai. Ketika baru saja aku lari beberapa langkah, sebuah mobil sedan berwarna biru metalik berhenti di sebelahku. Aku yang malam ini sudah sangat kenyang dengan pengalaman hampir dibunuh, dengan refleks meningkatkan kewaspadaanku pada tingkat maksimal. Kulit emasku kembali muncul perlahan.

"Aku rasa kau tidak perlu melakukan itu." Aku tidak tahu darimana asal suara yang kudengar, aku hanya mendengarnya.

Jendela mobil tersebut terbuka, seorang wanita muda duduk di belakang setir. Memandang dalam ke mataku sambil tersenyum.

"Cepatlah naik, kau tidak aman di sini." Suara itu terdengar lagi, aku yakin itu adalah suara wanita yang berada di mobil. Tapi mulutnya sama sekali tidak bergerak.

"Percayalah padaku Sean. Aku mohon." Darimana dia tahu namaku? Tapi aku percaya padanya, entah bagaimana, aku tahu dia akan membawaku ke sebuah tempat yang aman.

Aku menurunkan perlindunganku, emas di kulitku kembali menghilang. Aku membuka pintu mobil lalu masuk. Sesaat setelahnya sebuh kilatan cahaya berwarna biru melesat menabrak aspal hanya beberapa meter dari hidung mobil. Wanita tadi langsung menancap pedal gas dan melarikan mobilnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Aku melihat orang-orang yang mengejarku tadi semakin kecil dengan cepat dan menghilang.


"Kita selamat." Kali ini wanita tadi berbicara secara normal padaku, bibirnya bergerak dan suaranya benar keluar dari mulutnya. Dia hanya tersenyum memandang ekspresiku yang masih terkejut.

Beberapa jam sebelumnya.......

Alunan musik jazz mengalun indah dari dalam ballroom sebuah hotel berbintang lima. Sebuah acara amal tahunan untuk menggalang dana pemberantasan buta huruf dan kemiskinan diadakan di ballroom itu malam ini. Para tamu pria terlihat rapih dengan balutan setelan jas yang didominasi oleh warna gelap. Sedangkan para wanita tampak sangat anggun dengan balutan gaun mewah dengan berbagai warna.

Aku bersandar pada sebuah pilar pualam sambil memain-mainkan gelas berisi champagne berumur di tanganku.

"Mau berdansa?" Sebuah suara wanita mengejutkanku.

Ternyata Amber, sahabatku sejak kecillah pemilik suara tadi. Dia tampak sangat anggun dengan gaun berwarna biru broken white yang menempel di badan mungilnya.

"Maukah kau berdansa denganku?" Tanyanya lagi.
"Sebuah keberuntungan untukku Nona." Aku mebalas dengan nada formal yang dibuat-buat.

Kami berdua berjalan menuju lantai dansa sambil tertawa.

"Kita liat, berapa lama lagi lu bakalan kuat stay di pesta ini?" Amber memulai pembicaraan saat kita berdua mulai berdansa.
"Well, siapa tau mungkin kali ini gwa bakalan stay sampe acaranya selesai." Aku menjawab pertanyaan Amber sambil tersenyum.
"Gak mungkin J. Taruhan, paling 2 jam lagi lu bakal nyerah terus minta gwa buat nemenin lu makan burger di McD."
"Kita liat aja nanti, taruhannya apa? Gimana kalau yang kalah traktir burger McD malem ini?"

Kami berdua serentak tertawa bersama.

Cukup lama kami berdansa sampai sebuah suara tembakan mengejutkan semua yang ada di dalam ballroom itu. Sekelompok orang berseragam hitam dengan masker gas dan persenjataan lengkap berjalan memasuki ballroom. Masing-masing senjata yang mereka pegang ditunjukkan ke depan, ke arah para tamu.

"Kami mencari seseorang dan kami mohon kerjasama anda semua yang ada di sini." Salah satu dari kelompok berseragam itu berbicara. "Joshua Falcon."

Seketika itu pula badanku menjadi lemas. Mengapa sekelompok orang bersenjata mencariku? Apa yang mereka inginkan dariku? Ini pasti ada hubungannya dengan ketidak-normalanku. Pasti.

Amber menggenggam tanganku dengan erat dan melihat ke arahku dengan muka yang seakan bertanya 'Ada Apa Ini?'. Aku perlahan melepaskan genggaman tangan Amber dan memberi isyarat padanya untuk diam dan tetap tenang. Aku mundur perlahan, bergerak menjauh dari kerumunan dan hanya bisa berharap tidak ada satu orangpun yang mengenalku cukup bodoh untuk menyerahkan ku pada mereka.

"Sekali lagi kami minta dengan sangat kerjasama dari anda semua. Anda dapat pulang ke rumah masing-masing dengan selamat apabila anda menyerahkan Joshua Falcon." Suara orang itu tetap tenang.

Aku terus bergerak perlahan menuju pintu ke dapur, dan ketika masih beberapa meter jauhnya aku melihat salah satu dari orang berseragam tadi menjaga pintu tersebut, bahkan mereka menjaga semua pintu yang ada.

"Itu Joshua."

Sial seruku dalam hati. Aku menoleh untuk mencari sumber suara dan saat itulah aku melihat Amber sedang menunjuk ke arahku. Mengapa? Mengapa Amber melakukan ini? Aku menatap wajah Amber yang terlihat sangat panik dan ketakutan.

Orang-orang berseragam tadi berjalan ke arahku dengan senjata yang mengarah padaku. Titik-titik laser berwarna merah berkumpul di dadaku. Dengan gerakan tiba-tiba, aku berlari menjauh dari para tamu. Aku tidak bisa membiarkan mereka terluka. Suara berondongan tembahan mulai terdengar memekakan telinga. Para tamu menjerit histeris dan mulai berhamburan. Aku dapat merasakan setiap peluru yang bersentuhan dengan tubuhku, merobek pakaianku, tapi sama sekali tidak menggores tubuhku. Dorongan dari ratusan peluru itu mebuatku limbung dan terjatuh. Saat itulah suara tembakan berhenti.

Semua orang kembali terdiam, melihat sebuah tubuh yang terkapar setelah menerima berondongan peluru tajam. Tubuh berwarna emas.

Dengan gerakan yang mengejutkan, aku segera berdiri dan berlari ke arah pria berseragam hitam yang paling dekat berdiri denganku. Begitu sudah sangat dekat, aku meninjukan tangan emasku ke perutnya dengan sekuat tenaga. Orang tadi terpental ke belakang dan menabrak pilar pualam solid dengan sangat keras. Kini aku mengarah orang berseragam kedua. Aku tarik tangannya dan sekuat tenaga melemparkanya menabrak jendela yang langsung pecah.

Suara tembakan kembali bersautan, target mereka semua hanya satu. Aku. Tidak satupun peluru panas itu berhasil menembus pertahanan emasku. Orang berseragam ketiga baru saja terkapar setelah menerima pukulanku tepat di rahangnya, begitu juga orang kelima dan keenam.

Akupun berlari ke arah salah satu jendela besar yang menuju keluar, menabrak kacanya dan melompat ke dasar.

Hachiko  

Posted by doedoedoe

Baru saja tadi saya selesai menonton sebuah film yang berhasil membuat saya menangis berjudul Hachiko : A Dog's Story. Film karya sutradara Lasse Hallström ini diramaikan oleh Richard Gere, Joan Allen, dan Jason Alexander dalam jajaran pemerannya. Film ini menceritakan tentang kesetiaan seekor anjing bernama Hachiko dan pemiliknya, Parker Wilson seorang profesor di sebuah universitas.

Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata di Jepang pada tahun 1930-an. Hachiko adalah seekor anjing jenis Akita yang lahir pada tahun 1923 di kota Odate. Pada tahun 1924, Hachiko dibawa ke Tokyo oleh pemiliknya, Hidesaburo Ueno. Setiap harinya Hachiko akan menunggu tuannya di pintu gerbang statsiun kereta Shibuya, lalu mereka berjalan pulang bersama. Suatu saat Ueno terkena serangan stroke di Universitas Tokyo tempatnya mengajar dan meninggal. Hachiko yang tidak tahu akan hal itu tetap setia menunggu tuannya di pintu gerbang keluar statsiun Shibuya.

Hachico diberikan kepada orang lain untuk dijaga dan dirawat sepeninggalan Ueno, tapi dia terus saja kabur dan muncul di tempat tinggal Ueno semasa hidup. Pada akhirnya, Hachiko sadar bahwa tuannya tidak lagi tinggal di rumah tersebut. Maka dia pergi ke statsiun kereta dimana dia selalu menemani dan menunggu tuannya. Dan setiap hari dia tidak pernah melihat Ueno muncul diantara para penumpang kereta.

Kemunculan tetap Hachiko di statsiun kereta tersebut menarik perhatian para pengunjung statsiun. Banyak dari mereka yang sering melihat Hachiko datang bersama Ueno sebelumnya. Dan banyak juga dari mereka yang membawakan makanan untuk bekal Hachiko selama masa penantiannya.

Ternyata hal ini menarik perhatian seorang mantan mahasiswa Ueno yang mana adalah seorang pemerhati anjing jenis Akita. Mantan mahasiswa Ueno tersebut sangat tertarik dengan kisah kesetian Hachiko dan mulai menulis beberapa artikel mengenainya. Pada tahun 1932, artikel mengenai kesetian Hachiko terbit di sebuah surat kabar terbesar di Tokyo, membuat anjing ini menjadi perhatian nasional. Kesetiaannya banyak menginspirasi orang-orang di seluruh penjuru negeri.

Akhirnya Hachiko mati di sebuah jalan di Shibuya pada tahun 1935 setelah 9 tahun kesetiannya menunggu tuannya. Dan kini sebuah patung dari perunggu berdiri di depan salah satu gerbang statsiun kereta Shibuya untuk mengenang kesetiaan anjing ini.

Kisah tentang anjing yang paling setia di dunia ini sungguh dapat menginspirasi banyak orang. Membuat sebuah bahan perenungan bagi kita semua. Bagaimana tidak? Seekor anjing yang notabene hanya memiliki naluri memiliki kesetiaan yang terbukti tidak luntur bahkan oleh waktu. Kesetiaan adalah suatu bentuk tanggung jawab yang harus kita pikul setiap harinya. Saya yakin suatu saat kita akan merasa bahwa kesetiaan itu akan sangat membebani kita. Tapi itulah makna dari sebuah kesetiaan. Semakin berat rintangan yang kita hadapi dalam menjaga sebuah kesetiaan, maka saya yakin akan makin terasa bahagia nantinya saat kita telah berhasil menjaga keseiaan kita setelah rintangan-rintangan tersebut dilewati.

Makeover  

Posted by doedoedoe

Malam ini saya bertemu dengan teman saya untuk ngopi bareng. Pilihan tempat kami jatuh ke sebuah cafe di daerah Haji Wasid bernama Potluck. Sebenernya cafe ini sudah menjadi tempat langganan saya dan teman-teman untuk nongkrong. Selain makanan dan minuman yang nikmat, tempat pun mendukung untuk berlama-lama ngobrol ngalur ngidul di sana.

Maksud saya dan teman saya datang ke Potluck malam ini selain untuk ngopi-ngopi, juga sekalian untuk melihat wajah baru cafe itu setelah renovasi interior beberapa waktu lalu. Dan ketika saya masuk, saya langsung disuguhkan permainan warna yang menarik di dalamnya. Perpaduan warna antar putih, coklat tua dan hijau langsung menarik perhatian saya. Dudukan kursi berwarna hijau muda yang sangat cerah memberikan aksen nyaman yang sangat terasa.

Tidak hanya itu, begitu saya masuk lebih dalam saya diberikan pemandangan lain yang lebih mengesankan. Ada beberapa ruangan yang benar-benar dirombak untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Pokoknya saya benar-benar menyarankan kamu semua mencoba wajah baru Potluck.

Ketika saya duduk dan menikmati ruangan baru di cafe tersebut saya sadar kalau makeover dapat menciptakan suatu atmosfer yang berbeda. Tentu saja akan ada dua kemungkinan perubahan yang terasa, akan lebih baik atau justru lebih buruk. Dan makeover ruangan di cafe favorit saya di Bandung tadi pastinya membuatnya lebih baik.

Saya sangat sering melihat acara-acara di televisi yang mengusung tema makeover, baik itu ruangan, penampilan atau bahkan merubah jalan hidup seseorang. Dan saya sangat tertarik dengan acara-acara seperti itu. Memang ada beberapa yang menurut saya terlalu berlebihan, seperti misalnya sebuah reality show yang mengusung perubahan total dalam fisik seseorang dengan cara operasi plastik dan lain-lain. Tapi ada juga yang justru sebaliknya, mengubah sesuatu dengan sangat sederhana tapi justru memberikan efek perubahan yang dramatis, contohnya makeover gaya berbusana seseorang.

Kapan anda terakhir kali melakukan makeover untuk diri anda sendiri? Kalau saya diberikan pertanyaan itu, saya bingung sendiri menjawabnya. Saya adalah orang yang cenderung merasa nyaman dengan sesuatu sehingga saya akan sedikit malas untuk merubah sesuatu yang sudah saya anggap nyaman. Selain itu saya cenderung takut akan resiko ketidakberhasilan jika saya melakukan suatu perubahan. Yah, saya memang adalah seorang penakut.

Tapi kini setelah saya tinjau kembali, perubahan itu penting. Yang pasti itu akan membuat hidup kita semakin berwarna, tidak monoton. Tidak perlu radikal, karena saya kini yakin bahwa sedikit perubahan saja pasti akan membawa kesegaran baru. Menarik. Mari mulai kita coba untuk makeover diri kita untuk sesuatu yang baru dan pastinya lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah perubahan.

The Oscars  

Posted by doedoedoe

82nd Academy Award baru saja selesai dilaksanakan beberapa hari lalu. Para pemenang dari ajang film paling bergengsi di dunia ini sudah selesai diumumkan. Wajah-wajah baru kini ikut menghiasi daftar pemenang patung emas ini. Diantaranya adalah beberapa pelaku peran yang sudah sangat dikenal, atau mungkin adalah favorit anda.

Yang cukup mengejutkannya adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah, The Academy of Motion Picture Arts and Science sebagai panitia penyelenggara memasukan 10 film sekaligus dalam daftar nominasi penerima penghargaan Best Picture.

Yang tidak kalah mengejutkan pada Oscar tahun ini adalah penghargaan Sutradara Terbaik yang untuk pertama kalinya diraih oleh seorang wanita, Kathryn Bigelow untuk film The Hurt Locker yang notabene adalah mantan isteri dari James Cameron (Avatar) yang ikut bersaing dalam nominasi yang sama dengan Bigelow.

Pertama kali menonton The Hurt Locker, saya sangat takjub dengan film itu dan takjub dengan kepiawaian seorang Bigelow dalam menyutradarainya. Bagaimana tidak, seorang wanita menyutradarai sebuah film yang mengangkat tema perang. Tapi yang menjadikannya istimewa adalah kepiawainnya dalam menyelipkan unsur 'manusia' dalam film tersebut. Tidak berlebihan, tapi cukup sehingga sangat film tersebut sangat berhasil memperlihatkan adegan keras dan sensitif secara bersamaan. Dan film ini sukses memboyong Oscar sebagai Film Terbaik.

Dan inilah list lengkap pemenang 82nd Academy Award :
ACTOR IN A LEADING ROLE

Jeff Bridges - Crazy Heart
George Clooney - Up in The Air
Colin Firth - A Single Man
Morgan Freeman - Invictus
Jeremy Renner - The Hurt Locker

ACTOR IN A SUPPORTING ROLE
Matt Damon - Invictus
Woody Harrelson - The Messenger
Christopher Plummer - The Last Station
Stanley Tucci - The Lovely Bones
Christoph Waltz - Inglourious Basterds


ACTRESS IN A LEADING ROLE
Sandra Bullock - The Blind Side

Helen Mirren - The Last Station
Carey Mulligan - An Education
Gabourey Sidibe - Precious: Based on the Novel ‘Push’ by Sapphire

Meryl Streep - Julie & Julia

ACTRESS IN A SUPPORTING ROLE
Penélope Cruz - Nine
Vera Farmiga - Up in the Air
Maggie Gyllenhaal - Crazy Heart
Anna Kendrick - Up in the Air
Mo’Nique - Precious: Based on the Novel ‘Push’ by Sapphire


ANIMATED FEATURE FILM
Coraline

Fantastic Mr. Fox
The Princess and the Frog
The Secret of Kells
Up

ART DIRECTION
Avatar - Art Direction: Rick Carter and Robert Stromberg; Set Decoration: Kim Sinclair
The Imaginarium of Doctor Parnassus - Art Direction: Dave Warren and Anastasia Masaro; Set Decoration: Caroline Smith
Nine - Art Direction: John Myhre; Set Decoration: Gordon Sim
Sherlock Holmes - Art Direction: Sarah Greenwood; Set Decoration: Katie Spencer
The Young Victoria - Art Direction: Patrice Vermette; Set Decoration: Maggie Gray

CINEMATOGRAPHY
Avatar - Mauro Fiore

Harry Potter and the Half-Blood Prince - Bruno Delbonnel
The Hurt Locker - Barry Ackroyd
Inglourious Basterds - Robert Richardson
The White Ribbon - Christian Berger

COSTUME DESIGN
Bright Star - Janet Patterson
Coco before Chanel - Catherine Leterrier
The Imaginarium of Doctor Parnassus - Monique Prudhomme
Nine - Colleen Atwood
The Young Victoria - Sandy Powell

DIRECTING
Avatar - James Cameron
The Hurt Locker - Kathryn Bigelow

Inglourious Basterds - Quentin Tarantino
Precious: Based on the Novel ‘Push’ by Sapphire - Lee Daniels
Up in the Air - Jason Reitman

DOCUMENTARY (FEATURE)
Burma VJ

The Cove
Food, Inc.
The Most Dangerous Man in America: Daniel Ellsberg and the Pentagon Papers
Which Way Home

DOCUMENTARY (SHORT SUBJECT)
China’s Unnatural Disaster: The Tears of Sichuan Province

The Last Campaign of Governor Booth Gardner
The Last Truck: Closing of a GM Plant
Music by Prudence
Rabbit à la Berlin

FILM EDITING
Avatar - Stephen Rivkin, John Refoua and James Cameron

District 9 - Julian Clarke
The Hurt Locker - Bob Murawski and Chris Innis
Inglourious Basterds - Sally Menke
Precious: Based on the Novel ‘Push’ by Sapphire - Joe Klotz

FOREIGN LANGUAGE FILM
Ajami - Israel

The Milk of Sorrow (La Teta Asustada) - Peru
A Prophet (Un Prophète) - France
The Secret in Their Eyes (El Secreto de Sus Ojos) - Argentina
The White Ribbon (Das Weisse Band) - Germany

MAKEUP
Il Divo - Aldo Signoretti and Vittorio Sodano

Star Trek - Barney Burman, Mindy Hall and Joel Harlow
The Young Victoria - Jon Henry Gordon and Jenny Shircore

MUSIC (ORIGINAL SCORE)
Avatar - James Horner

Fantastic Mr. Fox - Alexandre Desplat
The Hurt Locker - Marco Beltrami and Buck Sanders
Sherlock Holmes - Hans Zimmer
Up - Michael Giacchino

MUSIC (ORIGINAL SONG)
Almost There - The Princess and the Frog ; Music and Lyric by Randy Newman

Down in New Orleans - The Princess and the Frog ; Music and Lyric by Randy Newman
Loin de Paname - Paris 36 ; Music by Reinhardt Wagner Lyric by Frank Thomas
Take It All - Nine ; Music and Lyric by Maury Yeston
The Weary Kind (Theme from Crazy Heart) - Crazy Heart ; Music and Lyric by Ryan Bingham and T Bone Burnett

BEST PICTURE
Avatar - James Cameron and Jon Landau, Producers

The Blind Side - Gil Netter, Andrew A. Kosove and Broderick Johnson, Producers
District 9 - Peter Jackson and Carolynne Cunningham, Producers
An Education - Finola Dwyer and Amanda Posey, Producers
The Hurt Locker - Kathryn Bigelow, Mark Boal, Nicolas Chartier and Greg Shapiro, Producers
Inglourious Basterds - Lawrence Bender, Producer
Precious: Based on the Novel ‘Push’ by Sapphire - Lee Daniels, Sarah Siegel-Magness and Gary Magness, Producers
A Serious Man - Joel Coen and Ethan Coen, Producers
Up - Jonas Rivera, Producer
Up in the Air - Daniel Dubiecki, Ivan Reitman and Jason Reitman, Producers

SHORT FILM (ANIMATED)
French Roast

Granny O’Grimm’s Sleeping Beauty
The Lady and the Reaper (La Dama y la Muerte)
Logorama
A Matter of Loaf and Death

SHORT FILM (LIVE ACTION)
The Door

Instead of Abracadabra
Kavi
Miracle Fish
The New Tenants

SOUND EDITING
Avatar - Christopher Boyes and Gwendolyn Yates Whittle

The Hurt Locker - Paul N.J. Ottosson
Inglourious Basterds - Wylie Stateman
Star Trek - Mark Stoeckinger and Alan Rankin
Up - Michael Silvers and Tom Myers

SOUND MIXING
Avatar - Christopher Boyes, Gary Summers, Andy Nelson and Tony Johnson

The Hurt Locker - Paul N.J. Ottosson and Ray Beckett
Inglourious Basterds - Michael Minkler, Tony Lamberti and Mark Ulano
Star Trek - Anna Behlmer, Andy Nelson and Peter J. Devlin
Transformers: Revenge of the Fallen - Greg P. Russell, Gary Summers and Geoffrey Patterson

VISUAL EFFECTS
Avatar - Joe Letteri, Stephen Rosenbaum, Richard Baneham and Andrew R. Jones

District 9 - Dan Kaufman, Peter Muyzers, Robert Habros and Matt Aitken
Star Trek - Roger Guyett, Russell Earl, Paul Kavanagh and Burt Dalton

WRITING (ADAPTED SCREENPLAY)
District 9 - Written by Neill Blomkamp and Terri Tatchell

An Education - Screenplay by Nick Hornby
In the Loop - Screenplay by Jesse Armstrong, Simon Blackwell, Armando Iannucci, Tony Roche
Precious: Based on the Novel ‘Push’ by Sapphire - Screenplay by Geoffrey Fletcher
Up in the Air - Screenplay by Jason Reitman and Sheldon Turner

WRITING (ORIGINAL SCREENPLAY)
The Hurt Locker - Written by Mark Boal
Inglourious Basterds - Written by Quentin Tarantino
The Messenger - Written by Alessandro Camon & Oren Moverman
A Serious Man - Written by Joel Coen & Ethan Coen
Up - Screenplay by Bob Peterson, Pete Docter, Story by Pete Docter, Bob Peterson, Tom McCarthy

Source from THE ACADEMY OF MOTION PICTURE ARTS AND SCIENCES

Wild Thing Inside Us  

Posted by doedoedoe

Semalam saya baru menonton film Where The Wild Things Are besutan sutradara Spike Jonze yang sebelumnya pernah menutradarai film Being John Malkovich. Film drama fantasy ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Max yang tidak punya teman dan sibuk mencari perhatian orang-orang di sekelilingnya. Max cenderung penyendiri dan hilang kendali akan emosinya jika dia merasa kecewa atau tersakiti.

Cerita dimulai saat Max mengamuk di rumah saat dimarahi oleh ibunya. Max lalu melarikan diri dari rumah dan sampai di sebuah pulau yang dihuni oleh binatang-binatang aneh yang bisa berbicara. Di sana dia diangkat menjadi raja dan memulai petualangannya. Ada satu binatang bernama Carol yang mempunyai sifat yang sama dengan Max. Dia tidak dapat mengendalikan emosi dan cenderung menyakiti perasaan yang lain saat sedang emosi.

Akting yang sangat briliant dari seorang anak berumur 12 tahun bernama Max Records lah yang menjadi daya tarik utama dari film ini. Sosok Max sebagai anak kecil penyendiri, penghayal dan cenderung kasar ini sangat berhasil dihidupkan oleh Records.

Ada sisi moral yang sangat kental yang mengalur sepanjang film. Bahwa dalam diri setiap orang ada 'mahluk liar' yang akan muncul saat terusik. Yang menjadi masalah adalah bagaimana penyaluran tiap personal yang berneda-beda saat 'mahluk liar' ini muncul. Sperti Max dan Carol yang cenderung bersikap anarkis saat si mahluk muncul, atau ada pula banyak orang yang mampu menyalurkan sisi liarnya menjadi sesuatu yang justru positif di mata orang lain.

Saya jadi teringat Sidang Paripurna DPR yang beritanya kemarin ramai menghiasi acara TV sampai memenuhi timeline Twitter saya. Berita tentang para anggota DPR yang notabene adalah wakil rakyat, panutan rakyat yang bisa menggila di ruang sidang gara-gara tersulut emosinya. Sebuah perhelatan yang seharusnya berisi orang-orang dengan intelektualitas tinggi berubah menjadi sebuah acara reality show seperti Termehek-mehek yang ramai dengan adegan-adegan lebay yang sangat luar biasa.

Saya tidak tahu bagaimana harus bereaksi saat saya melihat sidang tersebut kemarin. Apakah saya malu? Kecewa? Atau tertawa terbahak-bahak. Yang pasti saya langsung memindahkan channel TV saya ke acara lain yang lebih menghibur tanpa harus mencaci maki apa yang saya lihat di layar kaca.

Hal tersebut seperti menunjukkan contoh nyata bahwa memang ada sisi 'mahluk liar' tersebut dalam diri setiap orang. Banyak orang-orang yang menanggalkan intelektualitas dan rasa malunya saat mahluk tersebut keluar. Sungguh sayangat disayangkan memang apabila orang-orang yang kita tahu berintelektualitas tinggi harus menyerah diambil alih tubuhnya oleh si 'mahluk liar'. Sebuah pelajaran berharga bagi kita semua.

**Picure above is takken from Where The Wild This Are (children's picture book)